KA RAHAD dan Tanjung Pandan

June 25, 2007 by ozzieblog

Datuk Mempawah dan Depati Ki Agus Rahad Pulau Belitong adalah bagian dari Profensi Bangka Belitung, selain mempunyai potensi alamnya yang indah juga mempunyai sejarah panjang yang unik akan berdirinya Kota Tanjungpandan yang dipelopori oleh KA Rahad Memperingati hari jadi Kota Tanjungpandan yang ke 169 tahun yang jatuh pada 1 Juli 2007 ini.

Dan dalam sejarahnya dipertanyakan, mengapa Datuk Ahmad atau Tuk Mempawah menjadi ngabehi di wilayah Belantu dan Mengapa pula Depati KA Rahad atau Cakraninggrat ke VIII memilih mau di makamkan di Air Labu dekat Kembiri? Pada masa Cakraninggrat ke III (1696-1700) Wilayah Belantu juga di beri kewenangan oleh Depati KA Gending atau Ki Ganding kepada Tuk Mempawah atau Datuk Ahmad. kemudian pada tahun 1705, Datuk Ahmad diberi pangkat ngabehi dengan sebutan Ngabehi Suro Yudho, Datuk Ahmad seorang Mubaliq Islam.

Ketika beliau dari Malaka hendak pulang ke Kalimantan, karena Angin ribut, perahu beliau berlindung di Teluk Gembira Belitung dan menjumpai penduduk daratannya (pada masa itu penduduk pinggieran laut sudah ada; yang disebut urang Laut, penduduk daratannya di sebut Urang Darat) Kemudian beliau terkesan dengan bahasa penduduk daratan itu yang mirip bahasa penduduk semenanjung Malaya namun kebanyakan penduduknya masih menganut agama tradisi yaitu animisme yang di pimpin oleh dukon kampong ( Adat tradisi ini adalah wewenang yang diberikan oleh Cakraninggrat ke II, Ki Mending atau KA Abdullah) Kemudian beliau menetap dan mengajarkan Agama Islam di kawasan tersebut.

Dan itulah mengapa sebabnya Datuk Ahmad di beri kewenangan atau otoritas oleh Depati Cakraningrat ke III yaitu KA Gending untuk menjadi ngabehi? Dan diberi hak menjadi ngabehi di wilayah tersebut hingga turun-temurun. Ketika KA Bustam menjadi Depati Cakraninggrat ke IV, Datuk Ahmad termasuk seorang mubaliq yang disenangi oleh beliau karena ajaran Datuk Ahmad masih toleran dengan ajaran tradisi setempat, acara ritual perdukunan tak begitu “diharamkan” oleh Datuk Ahmad. Pada Masa tersebut, Islam yang dibawa para mubaliq Pasai cenderung hendak memurnikan ajaran Islam yang sesungguhnya (Islam dari Jawa Yang dibawa oleh Datuk Mayang Geresik atau Ki Ronggo Yudho sudah tak murni lagi ketika di turunkan kepada KA Abdullah atau Ki Mending, kemudian memberikan keleluasaan kepada para dukun untuk menjalankan hukum adat dan tradisi istiadatnya.

Langkah-langkah untuk mengIslamkan para dukun di ambil langsung oleh putra Mahkota KA Siasip yang semestinya beliau menjadi raja tapi beliau menolak dan tetap bertekad menjadi Penghulu Agama Islam) KA Bustam meskipun sudah Islam, juga adalah penerus ajaran tradisi ramondanya (Ramonda KA Bustam, Ki Mending atau KA Abdullah belajar Islam dari Kakeknya Ki Ronggo Yudho atau Datuk Mayang Geresik yang berasal dari Jawa Timur. Ki Mending atau Depati Cakraninggrat ke III, adalah raja yang mengendalikan sistem pemerintahan secara kebatinan atau mistis. Karena itulah beliau memberikan kewenangan kepada seluruh dukun untuk melaksanakan sistem hukum adat dan tradisi di tiap wilayahnya secara mistis) Fanatisme ajaran KA Abdullah atau KA Mending begitu kental menurun pada KA Bustam.

Karena itulah, istri beliau”Putri Gunong Labu” (Menurut cerita rakyat atau galor urang Belitong adalah turunan orang bunian atau bangsa Jin) Setelah KA Bustam menjadi raja menggantikan Abangnya KA Gending yang wafat tahun 1700, di Pamanukan Jawa Barat (semestinya anak dari KA Ganding yang menjadi raja yaitu KA Siasip, tapi beliau lebih memilih jadi Penghulu Agama Islam, KA Siasip belajar pada mubaliq yang datang dari Samudra Pasai, KA Bustam kurang menyukai ajaran mubaliq dari Samudra Pasai, kemudian beliau mengusir salah seorang guru KA Siasip yaitu Syehk Said Yassin. Selanjutnya pula membunuh Syehk Abubakar Abdullah atau Datuk Gunong Tajam) Dalam cerita lisan rakyat, Syehk Abubakar Abdullah yang bergelar Datuk Gunong Tajam atau Tuk Pasai adalah seorang sakti yang banyak memiliki murid yang terkenal sakti pula, salah satu muridnya adalah Tuk Kundo.

Salah satu alasan mengapa Mubaliq tersebut dibunuh, adalah KA Bustam dianggap syirik oleh ulama tersebut karena beristrikan dengan seorang wanita bunian atau bangsa jin. Seteleh KA Bustam Wafat, digantikan oleh anaknya yaitu KA Abudin (1740-1755) tapi kemudian dia berselisih dengan adiknya KA Usman. Dan KA Usman meminta bantuan dengan Sultan Palembang untuk menengahi masalah mereka, KA Abudin pun di tahan di Palembang dan kemudian menikah lagi dengan putri sultan Palembang. Atas jasa tersebut, KA Usman mesti mengirim upeti kepada Sultan Palembang pada setiap tahunnya. (Hubungan Depati Belitung dengan Sultan Palembang baru dibuka pada tahun 1755. berdasarkan catatan: Batavia Handelsblad pada Staatsblad Th.1879. No.45 ) KA Usman atau Cakraninggrat ke VI, memberikan kekuasaan wilayah kepada semua anak-anak KA Abudin atau ponakannya; yaitu KA Rantie masih menetap di Balok atau Dendang. Sedangkan KA Gunong Kurung yang masih sedih mengenangkan pertikaian Ramonda dan pamandanya hingga ia memutuskan untuk bersemedi di gua naga tempat datuk Ki Mending bertapa (menurut cerita rakyat, KA Gunong kurung adalah seorang setengah jin yang menitis dari neneknya Putri Gunong Labu, beliau menguasai dan melindungi empat gunung atau mengurung empat gunung; Gunung Labu, Gunung Guda, Gunung Pedas, dan Gunung Petebu) Sedang Adiknya yang bungsu, KA Munti diberi tanah atau wilayah baru di Lenggang Gantong dan berkedudukan di kawasan Gunong Petebu (Perenggu keluarga ini terkenal dengan sebutan Bangsawan Gunong Petebu) KA Usman menyingkir dari Balok kemudian mendirikan Kota Cerucok hulu. Menurunkan anak yaitu KA Hatam, KA Luso atau KA ujud, Dan NA Busu (NA Busu kemudian Menikah dengan KA Munti, anak dari KA Abudin) maka hubungan kekerabatan pun semakin mengental.

Ketika Pada masa KA Hatam Depati Cakraninggrat ke VII (1785-1815) di Cerucok, terjadi kekacauan dengan masuknya antek-antek Inggris yaitu Tengku Akil dari Siak. KA Hatam mati dibunuh Tengku Akil (KA. Rahad diyakini adalah seorang turunan titisan Jin. Karena itulah, ia hanya bisa dibunuh jika kepala dan tubuhnya terpisah dari badan. Kelemahan inilah yang diketahui tengku Akil. Dan KA Hatam dikenal dengan julukan Depati mati tekerat kepala) Pada insiden itu, ananda KA Ancun yang sudah menjadi Panggawa (putra mahkota) juga tewas. Yang selamat diantaranya adalah KA Rahad, KA Saleh dan beberapa adik perempuan mereka. Mereka semua delapan bersaudara tiga laki-laki dan lima perempuan. KA Rahad dan KA Saleh yang masih belum jadi Panggawa (putra mahkota) Dalam keadaan terluka mereka di selamatkan Pamandanya KA luso (KA Luso sudah memegang pimpinan di Gunong Petebu menggantikan Almarhum KA Munti) dalam pelarian mereka yang diburu orang-orang Tengku Akil, bersembunyi sementara di Tanjoeng Gunong (Kelak ketika ia menjadi Depati, tempat itu didirikan istananya) dan setelah cukup aman dia beserta adik-adiknya tinggal di Gunung Petebu. (Kelak, di masa pemerintahan KA Rahad wilayah ini meskipun jauh dari wilayah pemerintahan, ia tetap menjadi wilayah yang tak terpisahkan) KA Luso (Panglima keris berhulu perak) berhasil mengusir Tengku Akil, kemudian dia berlindung dengan Belanda di mentok.

Namun perlawanan di Bangka oleh Demang Singa Yuda dari Bangka kota dan Juragan Selan berhasil mengusir Tengku Akil. Setelah Kesultanan Palembang jatuh kepada Inggris tahun 1812 kemudian diserahkan kembali oleh Inggris kepada Belanda tanggal 20 pebruari 1817. Tetapi Belitung baru diduduki Belanda pada 21 Oktober 1821, itu pun dengan perantara pasukan palembang yang di pimpin oleh Syarif Mohammad guna menyingkirkan para bajak laut atau Lanun yang berkuasa di seputar perairan wilayah Belitong, Setelah aman maka pada tahun 1822 mendaratlah Kapten De la Motte dengan seratus serdadunya di Tanjoeng Goenoeng.

De la Motte mendapat perlawanan dari pasukan KA Rahad dengan panglima perang adik sepupunya sendiri yaitu KA Jalil hingga De la Motte menyingkir ke bukit Tanjung Pendam dengan bantuan orang-orang Cina De la Motte membangun benteng di situ dengan bantuan orang-orang Cina (Orang-orang Cina yang bekerja menambang timah pada Depati KA Hatam dan setelah KA Hatam meninggal Parit-parit timah terlantar dan orang-orang Cina mulai diperkenankan membuka pemukiman di tepi Sungai Aik Seburik, pemukiman Cina ini menjadi penyangga antara Belanda dan Depati dengan demikian orang-orang Cina dapat leluasa hidup dalam dua wilayah kekuasaan) sedangkan benteng Tanjoeng Goenoeng dapat di Kuasai KA Rahad dan kemudian KA Rahad mendirikan tempat tinggalnya, dan inilah awal Kota Tanjung Pandan di buka oleh KA Rahad (Eks Kantor polisi lama Tanjung Pandan) Syarif Mohammad yang menjadi “ujung tombak” Belanda, sudah tak mampu menundukkan KA Rahad hingga pada tahun 1824, ia dan pasukannya pulang secara diam-diam. Karena tak berhasil mengalahkan KA Rahad, pada tahun 1826 De la Motte digantikan oleh Assistent-Resident Bierschel dan kembali di kawal oleh Syarif Mohamaad dan pasukannya.

Perlawanan pun terjadi hingga Syarif Mohammad melarikan diri ke Mentok tapi diam-diam diikuti oleh orang-orang KA Lusoh, dan Syarif Hasyim tewas di Mentok dan pada tahun itu juga Bierschel dipanggil kembali ke Mentok Belanda cukup kewalahan atas perlawanan KA Rahad dan Pasukannya hingga kemudian Belanda mengangkat Syarif Hassim (Keluarga raja Lingga) untuk menundukkan KA Rahad, tetapi Syarif Hassim juga tewas dan di makamkan di sebelah penjara Tanjung Pandan. Kemudian Belanda mengangkat Mas Agus Assik dari Pulau Lepar tapi Mas Agus assik kemudian tak tahan juga berhadapan dengan KA Rahad dan pulang ke Pulau Lepar.

Pada tahun 1830, Pulau Belitong diserahkan Belanda kepada Syarif Hassan dari Palembang, tetapi pada tahun 1835 ia melarikan diri dan mengadukan tentang perlawanan Depati KA Rahad pada Resident Bangka di Mentok. Belanda kemudian mengirim tim ekspedisi ke Belitong yang dipimpin oleh Kolonel PC Riedel. Meskipun sikap Kolonel PC Riedel agak lunak dan mau mengajak KA Rahad berunding tapi KA Rahad tetap tak mau bertemu dengannya. P C Ridel pun mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak baik dari pihak keluarga raja juga dari rakyat. Dan kesimpulannya, rakyat tetap menghendaki KA Rahad menjadi depati dan atas dasar itulah Belanda melalui ResidentBangka, De Haase dan asisten Resident, Bierscehel, kemudian menobatkan dan mengakui KA Rahad sebagai Depati Cakraninggrat ke VIII.

Pada 1 Juli 1838 Dengan diangkat dan diakuinya KA Rahad sebagai Depati maka dimulailah babak baru taktik Belanda untuk mencari dan menambang timah di Belitung serta mengamankan seluruh perairan laut Belitung dari ancaman lanun, dan masa ini juga seluruh pulau-pulau sekitar Belitung di kuasai oleh Depati KA Rahad. Tahun itu juga KA Rahad membagi Wilayah Belitung menjadi enam distrik; Tanjung pandan, di pimpin oleh KA Saleh, Sijuk oleh ngabehi Djinal, Buding oleh ngabehi Awang, Badau oleh ngabehi Rachim, Belantu oleh ngabehi Deraip, Lenggang oleh KA Lusoh. Namun Distrik Lenggang dan Tanjungpandan disatukan karena dipegang oleh turunan sejati raja.

Sebelum KA Rahad meninggal dunia tahun 1854, Beliau berpesan untuk di makamkan di Gunung Labu tempat asal Putri Gunong Labu. Tapi kemudian orang seperti tak mengenal adanya Gunong Labu. Orang hanya mengenal tempat yang namanya Air Labu. Kini Makam KA Rahad, ada di Air Labu dekat Desa Kembiri, Kawasan Belantu.

Ian sancin

 Penulisdan Direktur SAPIR INSTITUTE Bidang Lintas Sosial Budaya

ASAL USUL BERIPAT-BEREGONG – by BULE HUZAINI SAHIB

June 15, 2007 by ozzieblog

  

MENURUT cerita yang berkembang secara turun temurun, asal mula beripat – beregong bermula dari sebuah kelaka’ –sebutan masyarakat Belitung untuk sebuah kampung kecil yang jauh di tengah hutan dan umumnya terletak tak jauh dari ume (huma, dalam bahasa Indonesia, red.) masyarakat. Keleka’ tersebut dikenal dengan nama Keleka’ Gelanggang (sekarang Desa Mentigi). 

Dikisahkan, pada zaman dahulu, di Keleka’ Gelanggang tinggallah seorang gadis. Pada zamannya ia bisa dikatakan yang tercantik. Kecantikan si gadis itu telah membuat para pemuda baik dari Keleka’ Gelanggang, maupun keleka’ lain sekitarnya, untuk mempersuntingnya sebagai isteri. Namun, lantaran banyaknya lamaran datang, orang tua si gadis kesulitan memutuskan siapa pemuda yang patut diterimanya sebagai menantu. Selain itu, orang tua si gadis tahu bahwa sebagian besar pelamar itu memiliki ilmu tinggi.

Misalnya, hanya dengan menunjuk saja, burung yang beterbangan akan jatuh. Atau pohon yang ditampar bisa langsung meranggas dan sebagainya. Karena itulah, selain sulit menerima, orang tua si gadis juga kesulitan untuk menolaknya. Dalam kebingungan, akhirnya, orang tua si gadis itu pun menemukan jawaban. Ia tidak akan menolak atau menerima satu pun dari lamaran tersebut. Ia baru akan menerima lamaran tersebut dengan satu syarat. Yaitu: yang berhak mendapatkan anaknya adalah yang memenangkan undian dimana undiannya ditetapkan sendiri oleh si peminang, tanpa campur tangannya. Diberi syarat demikian, akhirnya, para peminang setuju. Mereka sepakat untuk melakukan permainan pukul-pukulan dengan rotan, mengadu ilmu masing-masing. Siapa yang kena di bagian punggungnya dinyatakan kalah. Tapi, jika keduanya sama-sama terkena pukulan, yang keluar sebagai pemenang adalah yang menerima pukulan paling sedikit. Mereka juga sepakat menentukan hari permainan. Hari yang disepakati itupun tiba. Hari itu para peminang berkumpul di satu gelanggang yang telah disediakan, siap memainkan adu pukul-pukulan dengan rotan. Sementara itu, baik penduduk Keleka’ Gelanggang maupun dari keleka’ sekitarnya, berduyun-duyun datang ke gelanggang untuk menyaksikan adu sakti tersebut.

Sebagai pengiring dipukul gong, kelinang, tawak-tawak, gendang dan ditiuplah serunai. Seiring bunyi-bunyian tersebut, jago-jago tadi pun mulai ngigal (menari berputar-putar, red.) sambil berseru: “Ini die no’ ri Tembab, cube pute (nah, ini dia dari keleka ketembab, coba lawan). Seruan itu, sambil ngigal, disambut jago lain, dengan berseru:  “Ini no’ ri Balai Ulu, nda’ nulak pasang.” Sementara yang lain berseru pula, “Ni buntake no’ ri Nandong, dirit bangkai-e.” (Ini dari Keleka’ Nandong, diseret bangkainya, tidak akan mundur). Dan lain-lain seruan yang menandakan keberanian menghadapi siapa saja.

Pendek kata, diseling suara alat musik, terjadi perang seruan antara para jago tadi. Sementara itu jago-jago lain memperhatikan untuk mencari pasangan beripatnya dan bila telah ada yang menyetujui, masuklah ia ke gelanggang tempat ngigal tadi, sambil menepuk bahu pengigal tadi sambil berkata: “Kiape re?!” (gimana saudara?). Seruan itu akan dijawab pengigal –musuh- dengan jawaban: “Tulai!” (Jadi!). Menurut ceritanya dalam pertandingan tersebut, karena sebagian peserta adalah orang-orang berilmu tinggi dan sama-sama tidak terkalahkan, tidak seorang pun yang kalah maupun menang.  Demikianlah dongeng ringkas tentang beregong/beripat. Atraksi budaya beregong/beripat, saat ini sudah jarang dimainkan. Terakhir atraksi budaya digelar pada acara Maras Tahun , 2003 silam, si Kecamatan Selat Nasik.  Namun, untuk menggelarnya tidak mudah, karena harus dimainkan dengan pendukung lengkap. Dimulai dari selamatan, pembangunan rumah tinggi (balai peregongan) setinggi 6-7 meter yang diberi tangga buat para penabuh naik untuk memainkan alat musik pukul, seperti: dua buah gong besar, satu buah tawak-tawak, delapan buah kelinang, dua buah gendang panang, serta sebuah serunai.

Untuk menaikkan alat-alat musik ini ke balai peregongan harus dipimpin seorang dukun  atau ahli waris pemilik gong.  Permainan beregong/beripat ini dipimpin seorang dukun/dukun kampung dibantu seorang juru pisah dan pencatat. Permainan ini diselenggarakan pada malam hari. Setelah gong dibunyikan ramailah pemain menari-nari (ngigal) sambil berseru-seru seperti seruan peminang putri cantik yang menjadi pemicu adanya permainan ini di zaman dulu. Jika seorang telah mendapat lawan, mereka berdua pergi ke tempat dukun, lalu petugas menanyakan apakah sudah kenal sebelumnya dan lain-lain. Ada juga syarat, bahwa jago yang bertanding tidak boleh datang dari kampung yang sejalan.  Setelah dukun tidak keberatan, begitu juga pembantunya, keduanya membuka baju mereka dan harus terlepas dari pinggang ke atas. Untuk melindungi kepala dan telinga, bagian kepala ditutup dengan sehelai kain. Sementara tangan kiri dikebat (bungkus, red.) guna menangkis pukulan lawan, juga menggunakan kain sampai sebatas lutut. Sebelum dimulai dukun pun akan memberi tahu peraturan yang harus ditaati, semisal: tidak boleh menyerang dengan mengecoh (menyeruduk), harus saling serang dan tidak menyerang bagian kepala ataupun bagian pinggang ke bawah. Pukulan yang dianggap sah adalah yang kena bagian belakang.  Sebelum pertandingan dimulai kedua rotan pemain diperiksa dan diukur sama panjang, kemudian digosok dengan air jampi-jampi (dimanterai) yang sudah disediakan sebelumnya. Konon kabarnya, air jampi ini berkhasiat untuk menahan sakit meskipun kena pukulan berbekas besar (bintor, istilah setempat, red.) tapi baru terasa sakitnya setelah sampai di rumah.  Setelah rotan diberi air jampi, semuanya bersiap-siap. Kedua pemain pun masuk ke gelanggang diiringi tempik sorak penonton.

Semua pengigal yang ada di arena pun harus meninggalkan arena. Kedua orang ini saling berhadapan-hadapan, membuat gaya yang cukup menarik dalam memukul maupun menagkis. Padahal pertandingan sama sekali belum dimulai.  Sekejap kemudian pertandingan pun siap dimulai. Kedua jago bersalaman lebih dulu, sambil mengucapkan kata: “Kite ne cuma main, ndak ade dendam udanya.” Dan, sang lawan pun akan menjawabnya dengan ucapan: “Silekan sidak ngempok dulu’”.

Setelah itu pertandingan pun dimulai. Kedua jago saling serang, memukul dan menangkis. Suara besutan rotan pun seakan memecah kesunyian malam ditingkahi tempik sorak penonton yang mendukung jagonya masing-masing.  Setelah pertandingan berjalan cukup lama, juru pisah turun ke gelanggang, menghentikan pertandingan. Kedua jago pun dibawa ke hadapan dukun. Karena, biasanya, para petarung ini adalah juara di keleka’-nya, jarang ada yang terluka parah. Cuma, kalau bukan ahlinya, jangan berani-berani mencoba.

 Narasumber: Arfan Syahabudin (Pak Pe’), tokoh masyarakat Belantu, mantan anggota DPRD II Belitung, sekarang sudah almarhum. Cerita ini diperoleh pada tahun 1986, ketika beliau masih berumur 41 tahun, atau 18 tahun silam.  

PADANG BUANG ANAK by BULE HUZAINI SAHIB

June 15, 2007 by ozzieblog

 DIRIWAYATKAN kira-kira abad XIII, Pulau Belitung pernah mengalami suatu musim Barat Ijau, yakni kemarau panjang yang melebihi kemarau yang datang biasanya. Kemarau ini mengakibatkan dimana-mana terjadi kekurangan air baik untuk keperluan minum maupun kebutuhan rumah tangga.  Tersebutlah kisah seorang ibu bernama Dambe’ berjalan terseok-seok mendukung seorang anaknya kesana-kemari. Anak yang ada dalam gendongannya itu baru bisa merangkak. Tangan kirinya nampak menjinjing sebuah gerebog (tempat air beraal dari tempurung kelapa yang diambil dagingnya tanpa memecahkan tempurung, red.). Sementara tangan kanannya mengapit anaknya.  Sudah setengah hari Mak Dambe’ mencari air sambil menggendong anaknya. Terakhir ia menyusuri kaki Gunung Tajam, tapi belum juga mendapatkan air. Sementara anaknya sudah mulai menangis kehausan. Saking haus dan kecapekan Mak Dambe’ duduk melepaskan lelah di atas sebuah batu sambil melayangkan pandangannya kalau-kalau ada petunjuk dimana ia bisa mendapatkan air.  Selang beberapa lama, ia melihat seekor binat (bahasa setempat untuk menyebut kura-kura darat, red.) sedang berjalan merambahi tanah menjauh dari batu tempatnya melepas lelah. Melihat binat itu, Mak Dambe’ pun berfikir untuk mengikuti saja karena pasti ia akan mendatangi sumber air.  Namun ada satu hal yang meghalanginya untuk mengikuti binat tersebut. Anak yang ada di pangkuannya bagaimana pun juga adalah darah dagingnya. Tapi begitu dilihat binat  sudah kian menjauh ia memutuskan untuk mengikutinya dan akan meninggalkan anaknya di dekat batu tempatnya beristirahat. Agar anaknya tak pergi kemana-mana, ia pun meletakkan anaknya di atas tanah yang telah dipagarinya denga susunan batu berbentuk empat persegi panjang.  Setelah merasa anaknya aman dan tidak akan bisa pergi kemana-mana Mak Dambe’ pun bergegas menyusul binat tadi. Beberapa lama berjalan akhirnya binat yang diikutinya mengarah ke sebuah lembah. Ternyata di lembah itu terdapat sumber air dari sebuah celah batu. Ia pun sgera mengisi penuh gerebog-nya dan minum sepuas-puasnya.  Setelah puas minum barulah Mak Dambe’ tersadar bahwa ia harus segera kembali ke batu tempat ia beristirahat tadi untuk mengambil anaknya yang ia tinggalkan di sana. Hampir terbenam matahari barulah ia mencapai batu tersebut.  Namun, apa yang ditemuinya? Susunan batu yang memagari tempat ia menaruh anaknya sudah hancur. Ia pun segera mengamati sekeliling tempat tersebut. Alangkah kagetnya dia. Dilihatnya di atas tanah tampak bekas kaki seekor binatang berukuran sangat besar daab tetasan darah di dekatnya. Mak Dambe’ pun mengikuti tapak kaki binatang tersebut yang ternyata mengarah ke puncak Gunung Tajam. Namun, kendati ia terus mengikuti tapak kaki tadi, anaknya tak juga ia temukan.  Karena tak berhasil menemukan anaknya, dengan rasa sedih, kecewa, menyesal bercampur putus asa dan kehilangan yang sangat, Mak Dambe’ pun segera kembali ke pondoknya. Sekembalinya ke pondok, berhari-hari Mak Dambe’ tak bercampur dengan tetangganya. Seharian ia hanya duduk di tangga pondoknya sambil menagisi anaknya yang hilang tak tentu rimbanya.  Lama kelamaan ia pun tak tahan mendengar pertanyaan para tetangganya yang datang datang melihat tingkah lakunya karena lain dari biasanya. Karena didesak ia pun menceritakan semua hal ikhwal penderitaannya. Setelah itu barulah tetangganya tahu musibah yang menimpa Mak Dambe’.  Sejak saat itulah masyarakat setempat menyebut daerah dimana Mak Dambe’ telah meninggalkan anaknya sebagai Padang Buang Anak, karena di tempat itulah masyarakat beranggapan bahwa. Mak Dambe’ telah membuang anaknya.   Pesan dari cerita ini adalah: “Hati-hati dalam bertindak karena, kelalaian dalam tindakan bisa mendatangkan persepsi buruk macam-macam di mata orang lain”. 

MISTERI BATU BUYONG

June 8, 2007 by ozzieblog

DI ANTARA beberapa obyek wisata yang ada di Pulau Belitung, salah satu yang sering dikunjungi wisatawan lokal adalah Batu Buyung. Sebuah obyek wisata  yang berada di daerah paling ujung di Selatan Pulau Belitung. Terletak sekitar 110 kilometer dari Tanjungpandan, obyek wisata ini bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.   

 Kelebihan obyek wisata ini adalah sebuah batu seukuran lapangan bulutangkis yang terlihat agak unik. Yaitu, seperti sebuah batu yang memang digeletakkan di atas sebuah batu datar lainnya.   Selain sebagai tempat wisata, kawasan obyek wisata Batu Buyong ini juga dikenali masyrakat sebagai tempat yang memiliki nuansa magis cukup kuat. Hingga kerapkali orang-orang mendatangi Batu Buyong untuk bernazar, semisal meminta sesuatu seperti nomor buntut dan sejenisnya.    

Banyaknya masyarakat yang menjadikan Batu Buyong sebagai tempat bernazar, tak terlepas dari cerita dibalik keberadaan dan asal usul Batu Buyong itu sendiri. Yang konon kabarnya hanya sebuah batu kecil seukuran kepala bayi (buyong, red.) yang berasal dari Kerajaan Majapahit.   

Dikisahkan, dalam satu misi perluasan wilayahnya, satu armada kecil dari Kerajaan Majapahit melihat sebuah ‘gosong’ yang aneh. Tampak seperti ‘gosong’, tapi pemandangan dari laut sangatlah indah. Terpesona dengan keindahan gosong tersebut, serempak semua awak perahu menghentikan pekerjaannya. Mereka memilih menikmati keindahan ‘gosong’ tersebut daripada melakukan pekerjaan.    Namun demikian, kendati memiliki kesempatan, mereka tak berani langsung mendarat ke gosong tersebut.

Takjub dengan keindahan gosong tersebut, para awak perahu dari Kerajaan Majapahit seperti merasakan hanya mendatangi sebuah pulau tak berpenghuni saja. Tapi, berdasarkan pengalaman di pulau-pulau lain, mereka merasa yakin bahwa ‘gosong’ yang indah ini pasti ada penghuninya. Dengan keyakinan tersebutlah kemudian mereka menyempatkan diri singgah sebentar untuk sekadar beristirahat sambil menikmati indahnya ‘gosong’ tersebut.   Sesampainya di tanah Jawa, pimpinan armada kecil itupun segera melapor kepada Raja. Menceritakan pulau yang mereka temukan yang dianggap ganjil dan penuh misteri ini. Mendapat laporan demikian Raja merasa perlu untuk segera menanggapinya. Pertemuan singkat pun digelar untuk memutuskan apakah pulau tersebut akan diberi tanda sebagai milik Majapahit. Di akhir pertemuan Raja pun menginstruksikan kepada hulubalangnya untuk membuat sebuah tanda berupa sebuah batu yang dibuat dari ‘batu dapur’ (tanah liat yang dibulatkan, biasanya digunakan untuk membuat dapur api di rumah-rumah di kampung, sebesar kepala buyung –bayi, red.).

Mendapat instruksi demikian hulubalang pun segera menyiapkan sebuah batu dapur lengkap dengan tali rantai yang panjang sebagai ‘pengikat’ pulau tersebut dari Pulau Jawa.   Setelah semua perlengkapan siap rombongan kedua pun berangkat menuju ke pulau misterius tadi. Namun, berbeda dengan rombongan

sebelumnya, kali ini anggota rombongan jauh lebih banyak dari rombongan yang menemukan pertama kali. Singkat cerita setelah rombongan tadi sampai di pulau misterius tadi, mereka segera meletakkan Batu Buyong di tempatnya sekarang ini. Dari batu Buyong itu pula lalu diikatkan rantai hingga sampai ke Pulau Jawa. Setelah tugas tersebut selesai, rombongan itupun terpisah dua. Satu rombongan dengan anggota cukup banyak kembali ke Jawa. Sedangkan sebagian kecil tetap tinggal tersebut untuk mengawasi sekaligus menjaga pulau tersebut agar tidak diambil orang lain. Penjaga inilah yang konon kabarnya masih menghuni daerah dimana batu tersebut diletakkan. Kepada ‘beliau’lah orang-orang minta sesuatu untuk kemudahan-kemudahan yang bersifat duniawi.   

Saat ini batu buyung tadi sudah tidak seperti keadaannya pertama kali dibawa dari tanah Jawa, yang hanya seukuran kepala bayi. Tapi sudah membesar hingga menjadi seukuran lapangan bulutangkis. Namun, yang aneh bin ajaib, letak batu buyung ini persis seperti sebuah batu yang memang digeletakkan di atas sebuah batu datar lainnya.    Menurut pendapat setengah orang, jika batu ini didorong beramai-ramai ia akan tergeer ke lautan. Tetapi karena sekarang sudah dianggap batu berpenghuni, maka orang tak berani lagi membuktikannya. Pendapat lain juga mengatakan bahwa, penghuni Batu Buyung saat ini ada tiga orang. Yaitu Bujang Tanggok (Melayu/Islam); Taopekong Gambar Melayang (Cina/Khong Hu Cu); dan Penderas Kilat Di Awan (Kulit Putih/Kristen).   

Pendapat lain juga menyebutkan bahwa, permintaan ‘sesuatu’ kepada penunggu Batu Buyong ini akan bisa dikabulkan setelah si peminta melakukan satu pertapaan yang sangat berat ujiannya. Mula-mula pertapa dilemparkan ke Gunung Baginda, lalu oleh penghuni Gunung Batu Baginda dikembalikan ke Batu Buyung. Lempar melempar itu terjadi sebanyak tujuh kali secara berulang-ulang. Nah, jika di pertapa berhasil melewati ujian pertama ini, maka si pertapa akan dilemparkan ke sebuah gosong, bernama GOSONG PARAK, untuk diuji secara magis. Setelah seorang pertapa berhasil melewati ujian terakhir ini, barulah apa yang diinginkan dan disampaikan pertapa sebelumnya akan dikabulkan.   Memang sejauh ini tak ada yang menceritakan sudah berapa banyak pertapa yang dikabulkan permintaannya. Namun, sebagian masyrakat tetap yakin bahwa, batu yang semula hanya berukuran sekepala bayi itu dan telah berubah menjadi sebesar lapangan bulutangkis itu, tetap dijaga oleh pasukan yang dikirim oleh Raja Majapahit ketika menguasai pulau Belitung, hingga jadi terkesan angker.   

 Di tulis dan di ceritakan kembali oleh BULE HUZAINI SAHIB

ASAL MULA NAMA KAMPUNG BELANTU

June 8, 2007 by ozzieblog

 TAK jauh dari Gunung Beluru, Kecamatan Membalong, ada sebuah keleka’ dikenal dengan Keleka’ Nanga’. Disinilah terletak kuburan yang dikenal dengan Keramat Pinang Gading, tokoh utama cerita ini. Di antara rumah-rumah yang ada di Keleka’ Nanga’ ini, terdapatlah sebuah belandongan (rumah beratapkan daun nanga’ yang disirat, berlantaikan kayu berlapiskan tuntong –kulit kayu terunjam, red.)  Di rumah itu tinggal Pak Inda bersama istrinya Bu’ Tumina.

Sepasang suami istri yang hidup rukun dan damai ini belum dikaruniai seorang anak. Kendati demikian ketiadaan anak itu tak mengurangi rasa sayang antara keduanya. Kemana pun mereka pergi selalu berdua. Penderitaan salah satu adalah penderitaan keduanya. Begitu pula kesenangan. Ibarat  burung tiong, kemana jantan terbang disitulah betina ikut terbang. Sehari-hari hidup mereka bersumber dari usaha bertanam padi (ume). Tiap tahun pada bulan nyiur, mereka menugal (menanam padi ladang red.), jagung dan palawija lainnya. Pak Inda termasuk rajin berusaha di laut, untuk menangkap ikan dengan membuat dan memasang sero.  Suatu pagi, saat sedang musim mengetam (menuai) padi, Pak Inda berpamitan pada  istrinya, untuk menidau (menengok sero, red.) kalau-kalau mengena ikan banyak. Ia berpesan kepada istrinya, “Biar aku saja yang pergi, kau tinggal di rumah menjemur padi.”   Ketika Pak Inda tiba di tepi laut, air laut yang sedang berangsur surut. Saat berjalan menuju seronya, kaki Pak Inda tersandung sepotong bambu yang hanyut bersama sampah laut. Bambu itu ia ambil lalu dilemparkannya ke tengah laut agar hanyut ke tempat lain. Ketika ia tiba dekat seronya, ia kembali tersandung sepotong bambu. Lalu ia pun mengambil bambu tersebut. Setelah diamati, ternyata itu bambu yang tadi juga. Karena merasa tak butuh bambu Pak Inda pun mencampakkan bambu itu ke belakang sero, agar ikut terbawa arus hanyut ke tempat lain. Selesai dengan urusan bambu tadi, Pak Inda langsung sibuk dengan kegiatannya, menangguk ikan di dalam sero.

Rupanya hari itu seronya banyak mengena. Setelah dimasukkan ambong, ikan-ikan tadi dicucuki-nya dengan rotan. Sambil menggandar ikan-ikan hasil seronya, sebagian diambin (dipanggul), sebagian ditentengnya, ia mengarungi air laut yang telah surut dan berjalan menuju pantai. Di tengah perjalanannya menuju pantai, ketiga kali kakinya terkait sebatang bambu, yang setelah diamati ternyata bambu yang sudah dua kali dibuangnya tadi.   Karena sudah tiga kali tersandung bambu yang sama, terlintas dalam fikirannya … aneh sekali kejadian ini. Air laut telah surut, lazimnya benda itu hanyut terbawa arus. Tetapi kenyataannya, bambu itu hanyut melawan arus. Ia pun berfikir, pasti bambu ini bukan sembarang bambu, ada ada sesuatu yang terkait dengan bambu tersebut. Akhirnya, bambu itu pun ia ambil dan digunakannya untuk memikul ikan-ikan perolehannya. Ketika makan siang, perihal bambu aneh yang kemudian ia jadikan pikulan ikan tadi pagi  diceritakan Pak Inda pada istrinya. Oleh istrinya bambu itu diletakkannya di halaman depan rumahnya kalau-kalau diperlukan untuk menindih tikar jemuran padinya agar tidak tergulung oleh tiupan angin.  Selang beberapa hari setelah kejadian itu, tak ada peristiwa apa-apa dengan bambu tersebut. Namun, pada suatu hari Jumat, kira-kira matahari mulai tergelincir pertanda waktu sholat Dzuhur tiba, ketika pak Inda sedang tidur-tiduran berbantal sebang  (?????? Istilah apa ini, red.), secara tiba-tiba terdengar suara letusan sangat keras diikuti suara tangisan bayi. Suara itu datang dari tempat ia menjemur padi. Setelah dilihat ternyata, suara ledakan keras tadi berasal dari bambu yang dibawanya dari laut. Anehnya, dari pecahan bambu itu keluar seorang bayi. Dari muka sang jabang bayi terpancar cahaya yang menyilaukan mata.  Melihat bayi tersebut, Bu Tumina, istri Pak Inda, segera menggendongnya. Setelah itu ia segera memandikan, menyelimuti dengan kain bersih dan meninabobokkannya.  Ringkas cerita bayi itu dipelihara dan menjadi anak pasangan bahagia yang sudah lama mengidamkan anak ini. Bayi itu sendiri kemudian diberi nama Puteri Pinang Gading. Setelah usianya beranjak besar, kelihatanlah bahwa Pinang Gading memiliki keistimewaan khusus, yaitu kesenangannya akan panah sehingga tak henti-hentinya ia selalu minta dibuatkan anak panah dari bambu.

Akhirnya ia pun menjadi seorang anak yang mahir sekali menggunakan panahnya.  Setelah berusia sekitar 15 tahun ia malah menjadi seorang pemanah yang tiada tandingan. Bidikannya tak pernah meleset dan setiap ia pergi berburu selalu membawa hasil memuaskan sekali bagi Pak Inda dan Bu’ Tumina. Perangainya sehari-hari pun sangat menyenangkan, baik terhadap kedua orang tuanya maupun kerabat dan tetangganya di Keleka Nanga’.  Malah sejak Pinang Gading ada, kehidupan suami istri tersebut sama sekali berubah. Hasil tangkapan ikan dari sero-nya selalu melimpah ruah, setiap bertanam padi hasilnya selalu memuaskan. Pendeknya sejak pasangan ini memelihara Pinang Gading kehidupan mereka berubah makmur, hingga bertambah sayanglah keduanya kepada Pidang Gading.  *** KONON, tak jauh dari Keleka’ Nanga’ terdapat Keleka’ Remban. Keleka’ ini setiap tahun selalu ditimpa musibah yang ditimbulkan makluk menyerupai seekor burung raksasa. Burung raksasa yang kabarnya hidup di Pegunungan Bita, di sebelah Timur Danau Ranau, itu selalu memangsa penduduk Keleka’ Remban setiap habis panen. Hingga dari tahun ke tahun penduduk keleka’ itu menyusut. Baik akibat dimangsa burung raksana itu maupun karena banyak yang pindah dari keleka’ tersebut. Umumnya, selain pindah ke keleka’ sebelahnya, untuk menghindarkan burung raksasa tadi, sebagian penduduk memilih tinggal di gua-gua di celah-celah gunung di daerah itu.  Sementara bagi penduduk yang masih memilih tinggal sebagian besar menggunakan remban, yaitu kayu-kayuan yang disusun dan dijalin dengan rotan sega’ atau berebat. Mereka menamakan burung yang sering menyerang itu Burung Gerude, yang konon kabarnya berkepala tujuh.  Akan halnya musibah yang menimpa penduduk Keleka’ Remban itu tersiar ke keleka’ tetangga dan membuat mereka prihatin dan was-was, jangan-jangan suatu hari nanti mereka yang akan dapat giliran diserang.  Ketika musibah itu terjadi usia Pinang Gading sudah menginjak 21 tahun dan kemahiran memanahnya semakin hebat. Ia pun sudah mendengar akan keganasan burung raksasa tersebut. Karena tak tahan diteror, seluruh tetua keleka’ bermusyawarah untuk membinasakan burung tersebut dengan jalan memanahnya. Satu-satunya pemanah yang paling mahir saat itu siapa lagi kalau bukan Pinang Gading.

Sebagai anak yang berperangai baik Pinang Gading tentu saja tersentuh hatinya dan tergugah serta bersedia menjalankan tugas sebagai pemanah Burung Gerude tersebut.  Untuk menunaikan tugasnya, Pinang Gading pun segera membuat anak panah khusus untuk mematikan burung raksasa tersebut. Ia pun merendam anak panahnya dengan berbagai jenis racun.  Setelah persiapan usai dilakukan, pada suatu hari burung yang ditakuti itu datang ke Keleka’ Remban untuk mengganggu penduduk. Melihat kedatangan burung pembinasa tersebut, Pinaang Gading yang sebelumnya telah diungsikan di stu tempat strategis, mulai mempersiapkan busur panahnya dengan anak panah beracun siap ditembakkan. Akhirnya,  ketika si burung raksasa itu mematuk orang tua yang memang sengaja diumpankan, saat itu juga Pinang Gading melepaskan tali busur panahnya. Seketika anak panah beracun meluncur deras menuju sasarannya, tepat di leher si burung buas itu.  Karena anak panah yang digunakan Pinang Gading telah direndam anake macam racun, tak ayal burung itu pun langsung mati. Burung itu jatuh bergemuruh di atas tanah, menggelepar sesaat dan sekejap kemudian mati. Dari masing-masing dari tujuh kepala burung itu kemudian keluar air tujuh warna.  Lalu akan halnya anak panah Pinang Gading, saking deras dan kuatnya ia menarik busur, setelah menembus leher burung raksasa terus melesat ke atas dan jatuh kembali menancap di tanah. Menurut cerita yang berkembang turun temurun, anak panah yang menancap di tanah tadi tumbuh subur menjadi sebatang pohon bambu.

 Namun, setiap ada penduduk yang menebang pohon bambu itu akan menemui ajalnya, sehingga lama-kelamaan tak ada lagi penduduk yang berani menebangnya. Rupa-rupanya racun yang digunakan Pinang Gading begitu kuatnya, hingga terus melekat pada anak panahnya. Bahkan hingga anak panahnya tumbuh kembali menjadi pohon bambu yang subur. Karena itulah kemudian  penduduk setempat menyebut pohon bambu itu sebagai buluh hantu. (Buluh adalah bahasa lokal untuk bambu, red.) Lama kelamaan penyebutannya berubah menjadi BELANTU, hingga kemudian daerah tersebut juga dinamai daerah Belantu.  Akan halnya Pinang Gading, setelah berhasil memusnahkan burung raksasa tersebut, namanya kian termashur di seluruh keleka’ di daearah Belantu. Namun, sebagai manusia biasa, setelah usianya tua, meninggal di tempatnya ‘lahir’ di Keleka’ Nanga’. Makamnya yang kini terdapat di kampung kecil di kaki  Gunung Beluru, Membalong, itu hingga kini dikeramatkan penduduk setempat. 

 Di tulis oleh BULE HUZAINI SAHIB – email -    xbit_bule@yahoo.com